Kuis Baru di Majalah Anak Cerdas 20

 

Para orang tua dan anak-anak yang cerdas. Insya Allah majalah Anak Cerdas edisi 20 segera beredar dalam minggu pertama bulan September 2016 ini.  Majalah Anak Cerdas mengalami sedikit terlambat terbit karena ada persoalan teknis yang harus dibereskan. Namun demikian, dengan penuh rasa syukur, masalah itu teratasi dan majalah Anak Cerdas edisi 20 ini akan segera masuk ke toko buku, kios  koran dan sekolah-sekolah. Majalah Anak Cerdas edisi 20 ini memberikan kuis baru yang bisa diikuti oleh setiap anak dengan mudah. Kami menyebutkannya dengan sebutan Kuis Olah huruf, karena anak-anak akan menyusun kembali kata yang sudah diacak sehingga tersusun kata, lalu kalimat dan akhirnya menjadi cerita yang menarik dan sarat pelajaran karakter  bagi anak.

Ayo orang tua yang cerdas. jangan ragu-ragu untuk membeli majalah Anak Cerdas edisi 20 ini ya. Ajak mereka mengirimkan karya ke majalah Anak Cerdas ini.  Pasti anak-anak akan sangat tertarik.

 

Kini Majalah Anak Cerdas Rp 14.000

 

Majalah Anak Cerdas. Itulah nama majalah anak-anak yang diterbitkan oleh Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh, sebuah LSM lokal yang bekerja untuk isu perempuan, remaja dan anak di Aceh. Majalah Anak Cerdas, sebagaimana halnya majalah POTRET, kakaknya majalah Anak Cerdas, hadir atau terbit dari sebuah keprihatinan. Keprihatinan akan rendahnya budaya literasi di kalangan perempuan, remaja dan anak di Aceh khususnya. Itulah salah satu landasan diterbitkan dua majalah ini.

Lalu, Majalah Anak Cerdas, the children magazine terbit pertama kali pada bulan Mai 2013. Ya lebih kurang 11 tahun setelah majalah POTRET diterbitkan pertama kali pada 11 Januari 2003. Sejak edisi pertama majalah Anak Cerdas diterbitkan, harga majalah ini ditetapkan Rp 10.000,- dengan pertimbangan agar masyarakat tidak berat membeli majalah ini. Yang penting, cita-cita majalah Anak Cerdas untuk membangun gerakan gemar berkarya di kalangan anak-anak dari Aceh hingga nusantara bisa diwujudkan. Sebuah cita-cita yang amat besar untuk diemban dan direalisasikan. Namun, niat itu memang harus dilaksanakan dan diwujudkan dengan penuh semangat dan kesungguhan hati. Pokoknya We are committed to build the movement of building creative generation.

Tanpa dinyana, ternyata kini sudah masuk tahun ke empat terbitnya majalah Anak Cerdas. Saat ini majalah ini sudah menjadi sahabat anak-anak yang ada di Aceh dan juga di belahan Indonesia lainnya. Majalah Anak Cerdas menjadi tempat yang sangat tepat bagi anak-anak Indonesia untuk berkarya. Hampir 75 persen halam yang tersedia kini diisi oleh anak-anak dengan bernagai karya mereka. Mulai dari karya gambar atau lukisan, mewarnai, puisi, dan bahkan cerita-cerita atau artikel yang ditulis anak sendiri. Sebagai bentuk penghargaan yang memotivasi anak, majalah Anak Cerdas menyediakan hadiah untuk setiap karya yang dimuat. Sungguh besar biaya yang harus ada. Sementara harga majalah masih Rp 10.000. Sangat berat beban itu.

Kini, beban itu semakin berat, karena sejak awal terbit, majalah Anak Cerdas miskin dukungan iklan maupun pariwara. Majalah ini terbit di ladang gersang. Namun bisa bertahan hingga kini, walau hidup bagai kerakap tumbuh di batu, hidup enggan, ingin tetap bertahan. Padahal, biaya produksi sudah melambung.

Hmm, berat nian beban ini. Padahal majalah Anak Cerdas ini adalahsatu-satunya terbit di Aceh dan bahkan di Sumatera. Oleh sebab itu, semangat untuk terus terbit ada di lubuk hati, karena cita-cita untuk membangun gerakan gemar berkarya di kalangan anak-anak di Aceh dan nusantara masih belum selesai. Maka, dari pada tidak mampu terbit, satu-satunya jalan agar bisa bertahan hidup adalah dengan menaikan harga majalah ini. berdasarkan perhitungan yang rasional, harga  majalah Anak Cerdas harus berada pada angka Rp 14.000. Mungkin sangat memberatkan masyarakat. Namun, sekali lagi, kami tidak punya pilihan lain. Izinkan kami naikan harga mulai edisi 20 ini. Semoga semua dapat memakluminya.

Koleksi Anak Cerdas 19 Edisi

 

Oleh Tabrani Yunis

Mungkin anda adalah salah satu orang yang suka mengumpulkan atau mengoleksi sesuatu, seperti koleksi perangko dan termasuk mengoleksi  buku dan juga majalah-majalah yang pernah anda beli sejak dulu. Bisa jadi itu karena hobby atau karena memang sangat menyukainya. Bisa jadi, karena di dalam majalah tersebut ada karya-karya anda atau anak-anak anda. Pokoknya, mengoleksi sesuatu, mengoleksi majalah, karena atas dasar pertimbangan yang penting bagi anda.

Bagi yang suka koleksi majalah, mungkin juga sejak kecil, ketika orang tua anda membeli majalah untuk anda, maka setiap edisi anda simpan dengan baik, setelah selesai membacanya.Bahkan, ada pula, karena tidak sempat atau terlambat membeli majalah tersebut, koleksi anda menjadi tidak lengkap. Anda pun berfikir-fikir, kemana bisa mencarinya. Pengalaman buruk karena tidak bisa menemukan majalah yang diperlukan itu hendaknya tidak terulang kepada anak – anak kita. Anak-anak akan sangat kecewa bila majalah yang mereka butuhkan tersebut tidak ditemukan.

Majalah Anak Cerdas, sebagai media kreatif dan edukatif sejak dari awal telah mengantisipasi kemungkinan buruk tersebut. Oleh sebab itu, tidak semua majalah Anak Cerdas yang dicetak tersebut didistribusikan ke pasar pada saat bersamaan, tetapi kami menyimpan sejumlah majalah tersebut untuk sustu saat ada orang yang membutuhkan dan meminta untuk dibeli, kami bisa penuhi permintaan tersebut.

Oleh sebab itu, saat ini ada sejumlah ( jumlahnya terbatas0 yang kami sediakan bagi anda yang ingin mengumpulkan majalah Abak Cerdas dari edisi pertama hingga edisi 19. Nah, bagi anda yang ingin mendapatkannya, bisa hubungi kami di email potret.anakcerdas@gmail.com. Silakan hubungi kami.

 

Salam

 

Tabrani Yunis

0811685623

Ranting Semut Naila

 

Oleh Kayla Mubara

Anak-anak kelas V SD Islam Al-Ikhlas mendengarkan penjelasan Bu Hudaya. ada yang mencatat di buku kecil, selembar kertas, dan bagian tengah buku. Naila menuliskan apa saja yang disyaratkan dalam Bazar Jajanan Sehat.

“Jajanan itu akan dinilai dari segi: kelarisan, bentuk, dan bahan-bahan yang digunakan,” jelas Bu Hudaya perlahan.

Setiap selesai Ujian Kenaikan Kelas ada Bazar Jajanan Sehat. Bagi Naila, ini akan menjadi pengalaman pertama. Sepulang sekolah dia langsung menemui bunda di dapur. Mbak Minah yang membantu masak melihat dengan heran. Tidak biasanya Naila pergi ke dapur sebelum ganti pakaian.

“Bun, satu minggu lagi ada Bazar Jajanan Sehat nih. Kira-kira jajanan apa ya yang menarik, enak, dan sehat?” tanya Naila serius.

“Wah hebat. Makanan sehat itu yang tidak mengandung  bahan-bahan berbahaya bagi kesehatan. Seperti zat pewarna tekstil, penyedap rasa, pemanis buatan, dan pengawet berbahaya. Kamu tahu apa itu pengawet berbahaya, Sayang?” Bunda bertanya sambil mengusap kepala Naila.

“Iya, Bun. Formalin!” jawab Naila dengan yakin.

Formalin adalah larutan tidak berwarna dan baunya sangat menusuk. Formalin biasa digunakan sebagai bahan perekat kayu lapis dan disinfektan[1] untuk peralatan rumah sakit, juga pengawet mayat. Formalin sangat berbahaya jika terhirup, mengenai kulit dan tertelan. Akibat yang ditimbulkan berupa luka bakar pada kulit, iritasi pada saluran dan menyebabkan kanker.

“Anak pintar. Kita coba cari jajanan apa yang tepat untuk diikutkan bazar nanti, oke?”

Kalimat yang diucapkan bunda membuat Naila bersemangat. Selama ini Naila memang jarang jajan di luar. Dia biasa membawa bekal buatan bunda yang selalu berfariasi setiap hari. Tapi, Naila belum yakin, apa satu di antara bekalnya ada yang cocok untuk dijual?

“Naila ganti baju dulu, Bun. Kasih tahu ya kalau Bunda sudah dapat ide …,” pinta Naila bergaya anak dewasa.

***

“Ranting semut?” tanya Naila saat Bunda menjelaskan nama jajan yang akan dibawa bazar.

“Bunda memang belum pernah membawakan ini, tapi pernah membuatnya dalam bentuk berbeda,” jelas bunda membuat Naila penasaran.

Naila membuka tas belanja. Ada roti tawar, selai kacang, dan kismis. Wah, kok bahannya hanya tiga macam? Kira-kira seperti apa ya Ranting Semut itu?

“Naila cuci tangan dulu dan pakai ini.”

Bunda meletakkan sarung tangan steril[2] di atas meja. Naila segera mematuhi anjuran bunda untuk cuci tangan. Dia sudah tidak sabar ingin tahu bagaimana cara membuat kue bernama aneh itu.

“Nah, sekarang kita potong memanjang roti selebar kira-kira 1 cm.”

Naila melihat cara bunda memotong roti dan mempraktekannya.

“Olesi selai kacang, dan …  letakkan kismis berderet sepanjang roti,” lanjut bunda menjelaskan.

Naila manggut-manggut. Sejauh ini tidak ada yang sulit.

“Kita masukkan ke kotak transparan, yuk! Lihat deh. Bukankah ini seperti semut di atas potongan ranting?”

Naila mengacungkan dua jempol.

***

Hari Bazar pun tiba.

Anak-anak sibuk dengan jajanan yang mereka bawa.

“Wah ini unik. Ibu beli sepuluh deh.”

Bu Hudaya ternyata menyukai Ranting Semut yang dijual Naila.

“Aku juga mau!” pinta yang lain.

“Aku! … Aku juga!” seru beberapa anak tak mau kehabisan.

Anak kelas VI berebut membeli Ranting Semut Naila.

Siangnya hasil penilaian diumumkan.

“Jajanan yang mendapat nilai terbaik adalah … Ranting Semut!”

Alhamdulillah. Sekian.

[1] Disinfektan: Bahan kimia yang digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi, pencemaran  oleh jasad renik atau obat untuk membasmi kuman penyakit.[2]Steril: Bebas dari kuman.

Ulang Tahun Raja

 

Oleh Rosi Meilani

Hari ini Raja Deon berulang tahun. Ia merayakan pesta ulang tahunnya bersama segenap rakyat di alun-alun istana. Pesta tersebut dimeriahkan aneka lomba.

Perlombaanya lucu-lucu dan seru. Diantaranya, balapan siput, lomba menangkap belut, panjat pinang dan masih banyak lagi. Satu yang paling lucu adalah lomba rias wajah, dimana mata periasnya ditutup. Sehingga  hasil riasannya berantakan. Membuat penonton tertawa-tawa. Termasuk raja yang duduk diantara mereka.

Kehadiran Patih Patric sebagai pemandu acara membuat acara makin semarak. Setelah lomba rias wajah yang diikuti segenap rakyat dan pegawai kerajaan Patih Patric berseru,

“Sekarang kita saksikan lomba panjat pinang!” patih menoleh ke sisi Barat arena.

Serempak penonton beralih pandang ke pohon pinang yang licin berlumur oli hitam.

Tampak belasan peserta berebut memanjat pohon pinang yang licin itu. Baru beberapa tahap mereka memanjat, tak lama menggelosor. Dilanjutkan dengan yang lain, yang akhirnya menggelosor juga. Begitu dan terus begitu. Penonton merasa geli, lalu terkekeh-kekeh. Termasuk Raja Deon.

“Hei lihat, seorang anak berhasil mencapai puncak. Ia mengambil sebuah Handphone. Pilihan yang tepat!” seru patih diiringi tepuk tangan penonton. Ketika anak itu akan mengambil hadiah lainnya yang bergelantungan di puncak batang pinang, Sang Patih berteriak,

“Sudah, satu peserta hanya berkesempatan mengambil satu hadiah saja!”

Dengan terpaksa anak itupun menggelesorkan badannya.

“Lihat ada anak yang mengambil hadiah sepasang sepatu bola!” patih berseru, lagi-lagi diiringi tepuk tangan penonton.

Sementara itu, dipojokan arena tampak seorang anak lelaki tertarik untuk mengikuti lomba yang menarik tersebut. Terlebih ada sebuah hadiah yang selama ini inginkan, yaitu Play Station. Ia pun segera bergegas menembus keramaian dan berdesakan diantara peserta panjat pinang lainnya.

Baginya menaiki pinang yang licin tidak begitu sulit. Selain olinya sudah berkurang, maka berkurang licinnya, ia pun sering kali memanjat pohon kelapa di pekarangan rumahnya. Ia biasa memanjat pohon kelapa untuk keperluan ibunya yang pembuat kue-kue jajanan pasar.

Tiba di puncak tiang pinang, anak itu ragu. PS yang sedari tadi ia incar bersebelahan dengan sebuah mixer kue. Tangannya yang semula meraih PS akhirnya beralih ke mixer lalu menariknya.

“Coba lihat, apa yang dipilih anak itu?” seru Patih yang menggunakan pengeras suara. “Hah! ternyata ia mengambil sebuah mixer,” pekik patih diiringi sorakan penonton. Huuuhh… ujar mereka.

“Siapa namamu, nak?” patih menyodorkan mikrofon, sesaat setelah anak itu turun.

“Nino,” jawabnya sambil menyeka keringat bercampur oli hitam.

“Kenapa kamu memilih ini? Kan masih banyak hadiah bagus lainnya untukmu? Kulihat tadi kamu memilih PS, kenapa malah barang ini yang kamu ambil?

“Tadinya aku memang menginginkan PS itu. Tapi aku teringat keinginan ibu,” ujar Nino.

“Apa keinginan ibumu itu?” selidik patih.

“Ia pernah bilang, ingin sekali memiliki mixer ini. Karena kue jajanan pasar buatan ibu mulai ditinggalkan pembeli. Mereka lebih menyukai kue-kue bolu. Kupikir mixer ini sangat cocok untuk ibu,” jelas Nino.

“Aouwww…,” penonton berpenuh haru. Termasuk raja dan permaisurinya.

Raja Deon yang terkenal bijak dan perhatian pada rakyatnya, tiba-tiba berdiri dan berseru,

“Hei anak muda, aku terkesan akan perhatianmu pada ibumu. Oleh karena itu, aku mengundang kamu dan ibumu untuk menghadiri jamuan makan di istana nanti malam.”

Mendengar itu, Nino tercengang senang.

“Satu hal lagi, sebagai hadiah dariku, kau boleh memilih tiga barang yang paling kau inginkan. Katakan hal itu pada patih, supaya saat jamuan makan malam nanti, hadiahmu telah tersedia,” lanjut raja.

“Te.. te.. ter..terima kasih, Tuan Raja,” Nino menjawab terbata-bata. Hatinya senang bukan kepalang.

 

  • Penulis berdomisili di  23 Nunnery lane WR5 1 RE, Worcester, United Kingdom.

 

 

Rosi Meilani, bermukim di UK. Penulis telah menghasilkan belasan buku antologi dan lebih dari 50 tulisan yang dimuat di media cetak. Berupa tulisan perjalanan, opini, artikel, feature, wawancara/profil tokoh, kisah inspiratif, cerpen, cernak, parenting dll. Media tersebut diantaranya: Majalah Parenting Indonesia, Majalah Anak “IRFAN”, Majalah Sekar, Majalah Paras, Majalah Potret, Majalah OASE, Koran Pikiran Rakyat, Tribun Timur, Tribun Jabar, Koran Republika, Tabloid Prioritas, Suara Merdeka dll. Penulis bisa dihubungi melalui meilanirosi@gmail.com